Berbagai Teladan Acara Ibadah Di Bulan Ramadan

Kegiatan bulan puasa Tahun 1439 Hijriyah/2018 Masehi_Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia telah mengadakan sidang isbat untuk penentuan awal bulan suci bulan puasa tahun 1439 H. Adapun hasil dari sidang tersebut, pemerintah via Menteri Agama ( Drs. Haji Lukman Hakim Saifuddin) telah menetapkan bahwa 1 bulan puasa 1439 H bertepatan dengan hari Kamis tanggal 17 Mei 2018 dan/atau kalau dilihat di kalender/penanggalan hijriyah maka 1 bulan puasa 1439 Hijriyah sudah masuk mulai tanggal 16 Mei 2018 waktu maghrib. Dari itu, mulai malam ini (16 Mei 2018) umat Islam sudah mengawali acara ibadah di bulan bulan puasa seperti: Sholat Tarawih dan Witir, Tadarus Al-Qur'an, makan sahur perdana, dan ibadah lainnya.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama  Berbagai Contoh Kegiatan Ibadah di Bulan Ramadan
 Kegiatan Bulan Ramadan via http://photo.liputan6.com/

1. Kegiatan Ibadah Sholat Tarawih
a. Bolehkah Sholat Tarawih dilaksanakan sendiri tanpa berjamaah?
Setelah sidang isbat menetapkan awal bulan puasa sudah masuk malam ini, umat Islam ( khususnya muslim Indonesia) mengawali acara bulan puasa dengan Sholat Tarawih secara berjamaah di Masjid maupun Musholla, walaupun Sholat Sunnah ini boleh dilaksanakan tanpa berjamaah(sendiri). Namun, dominan muslim menentukan mengerjakan Sholat Tarawih dengan berjamaah, alasannya ialah selain terasa ringan, pahala Sholat berjamaah lebih banyak dibanding dengan Sholat sendirian.

b. Berapa jumlah rakaat Sholat Tarawih, 11 rakaat atau 23 rakaat?
Ahaa, pertanyaannya ternyata salah ya sob???he he. Maksud saya, Sholat Tarawih itu 8 atau 20 rakaat?. Untuk lebih jelasnya, yakinilah apa yang telah menjadi keyakinan Anda, alasannya ialah baik itu Sholat Tarawih dikerjakan 8 rakaat + 3 witir dan/atau 20 rakaat + 3 rakaat Sholat Witir itu sama-sama ada dalilnya sehingga semuanya benar.

Loh kata Muhammadiyah, Sholat Tarawih itu yang benar ialah 8 rakaat!, sedangkan kata NU, jumlah rakaat Sholat Tarawih itu ada 20!

Hmm, ga usah dipikirin kalau duduk kasus beda keyakinan, alasannya ialah berdebat (apalagi debat kusir) perihal perbedaan keyakinan itu pekerjaan sia-sia belaka.

NU dan Muhammadiyah hanyalah sebuah organisasi maupun golongan, seharusnya dalam soal ibadah (khususnya) tidak usah fanatik, jalankan ibadah alasannya ialah Allah, jadi bukan alasannya ialah NU, Muhammadiyah, dan/atau organisasi/golongan Islam yang lain.

Sholat Tarawih dikerjakan 8 atau 20 rakaat itu sama-sama mendapat pahala (jika ikhlas), jadi seharusnya jalani saja sesuai keyakinan masing-masing tanpa memikirkan orang lain yang berbeda keyakinan.

Banyak pahalanya yang mana antara orang Islam yang melaksanakan Sholat Tarawih 20 rakaat dengan yang 8 rakaat?

Pahala Sholat Tarawih 20 rakaat lebih banyak daripada 8 rakaat kalau yang mengerjakan Tarawih 20 rakaat lebih nrimo dari yang 8 rakaat.

Pahala mengerjakan Tarawih 8 rakaat lebih besar ganjaran/pahalanya kalau yang melaksanakan Tarawih 8 rakaat lebih nrimo dari yang 20 rakaat.

Bagaimana dengan pahalanya orang Islam yang TIDAK mengerjakan Sholat Tarawih 8 dan/atau 20 rakaat, namun ia ikhlas?

Hmm, pahala itu urusan Allah. Jadi, Wallohu a'lam bishowab. Yang jelas, yang tidak mendapat pahala Tarawih ialah orang Islam yang tidak mengerjakan Sholat Tarawih 8 atau 20 rakaat , namun ia tidak ikhlas. Dalam artian ia hanya suka debat mempermasalahkan 8 atau 20, namun ia malah tidak mengerjakan salah satu dari keduanya. Aneh!


2. Kegiatan Ibadah Membaca Al-Qur'an
Pahala membaca Al-Qur'an selain di bulan bulan puasa memang banyak, namun lebih besar lagi pahalanya kalau pada bulan Ramadan. Nah, alasannya ialah itulah umat Islam umumnya lebih memperbanyak tadarus Al-Qur'an di bulan Ramadan.

Kegiatan Tadarus Al-Qur'an di bulan bulan puasa seringnya dilaksanakan bersama di Masjid atau Musholla, ada juga orang islam yang membaca Al-Quran di rumah.

Artikel terkait : Transformasi Tadarrus Al-Qur'an Malam Hari Bulan Ramadan; Tradisi dari Jibril hingga Anak Kecil

Lebih baik mana Tadarus Al-Qur'an sistem BANDUNGAN dengan sistem MANDIRI (Jakartaan)?
Apa itu Tadarus Kitab Suci Al-Quran model Bandungan dan MANDIRI?, he he ibarat yag sudah maklum bahwa di desa/kampung bahkan di kota sekalipun,,,istilah "Bandungan" sudah tidak abnormal lagi.

Membaca Al-Qur'an sistem Bandungan ialah acara tadarus Al-Qur'an yang dilaksnakan secara bersama di Masjid/Musholla/Majlis Ta'lim, di mana pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran dilakukan secara bergantian/giliran, kalau ada salah satu anggota jamaah tadarus yang sedang membaca Al-Qur'an, maka anggota lainnya menyimak bacaan.

Tadarus Al-Qur'an sistem Jakartaan (Mandiri) ialah pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang dilakukan sendiri-sendiri walaupun di Masjid/Musholla juga banyak temannya.

Lalu lebih baik mana dong antara tadarus sistem BANDUNGAN dibanding JAKARTAAN?

Baik bagi orang Islam yang gres proses maupun sudah hebat membaca Al-Qur'an, cara terbaik ialah tadarus sistem BANDUNGAN. Hal ini dikarenakan kalau misal si anggota yang sedang mendapat giliran untuk membaca Al-Qur'an, ternyata terjadi kesalahan dalam membaca, maka anggota yang lain sanggup membetulkannya, sehinnga kesalahan bacaan sanggup teratasi dengan benar.

Beda dengan tadarus Al-Qur'an secara mandiri, ahaa kalau ada kesalahan membaca tidak diketahui, alasannya ialah biasanya membaca Al-Qur'an sendiri itu terasa benar terus. Apakah Anda juga mencicipi hal yang sama?, he he.

3. Kegiatan Sholat Sunnah Tahajud, Hajat, dan Sholat Sunnah lainnya.
Di bulan Ramadan, orang Islam juga kebanyakan memakai aji mumpung,,ahaa mumung pahala ibadah di bulan bulan puasa pahalanya dilipatgandakan. Nah, biasanya umat Islam lebih rajin dalam melaksanakan Sholat Tahajud dan Sholat Sunnah lainnya.


4. Kegiatan Ibadah Sunnah Makan Sahur
Pada zaman dahuluuuu,,,khususnya di desa daerah tinggal saya, santap sahur itu dilakukan antara pukul 23.00 - 01.00 WIB. Mengapa demikian???, ya alasannya ialah pada sekitar tahun 1990-1995 media warta belum ibarat ketika ini. Pada zaman itu tidak semua warga mempunyai radio, TV, bahkan masih ada yang belum mempunyai jam.

Pada ketika itu, dominan warga desa saya memanfaatkan tanda bedug/jidur sebagai tanda bahwa ketika sahur sudah tiba. Jadi, kalau anak/remaja sudah membunyikan bedug di Masjid/Musholla, maka orang Islam di sekitarnya bangkit tidur dan makan sahur.

Lain dengan zaman sekarang, di mana dominan orang Islam lebih suka santap sahur di waktu yang kiranya tidak terlalu jauh dan bersahabat dengan waktu imsak tiba. Dan sebaiknya memang ibarat itu.

5. Kegiatan Puasa Wajib di bulan Ramadan
Semoga kita orang Islam sanggup sukses melaksanakan ibadah puasa 1 bulan penuh, Aamiin. Ini khusunya bagi Muslim, nah kalau Muslimah yang sedang berhalangan untuk berpuasa (misalnya haid) itu lain lagi alasannya ialah perempuan haid haram hukumnya untuk berpuasa.

6. Berbuka Puasa Ramadan
Jika tiba waktunya untuk buka puasa, maka segeralah berbuka puasa. Namun ingat, sebaiknya jangan hingga terlalu kenyang, semoga dalam menjalankan Sholat Tarawih tidak terganggu oleh perut yang kekenyangan. Di mana umumnya kalau perut terlalu banyak isi makanannya maka berpotensi timbul rasa malas, ngantuk, dan terasa berat untuk melaksanakan ibadah.

Baca juga:
Demikian sekilas tentang beberapa pola acara di bulan Ramadan. Semoga bermanfaat.

0 Comments

Posting Komentar